Dahulu orang lebih memilih minuman bersoda untuk menghilangkan dahaga khususnya dalam bepergian. Untuk konsumsi air minum untuk rumah tangga, orang memasak air terlebih dahulu sebelum untuk kebutuhan minum. Namun, sekarang sudah berbeda jauh, masyarakat lebih senang mengkonsumsi air biasa dibandingkan minuman soda. Kini kebiasaan tersebut mulai bergeser dengan langsungmengkonsumsi air minum dalam kemasan. Berubahnya kebiasaan tersebut dikarenakan selain sumber air bersih yang semakin langka dan tercemar, juga ada perubahan karena tidak mau repot memasak air terlebih dahulu disamping harga bahan bakar untuk memasak juga semakin mahal.

Saat ini permintaan untuk kebutuhan konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) sudah melampaui 15 miliar liter pertahun dengan pertumbuhan 10 – 15 per tahunnya. Karena itu, tidaklah mengherankan banyak orang yang kemudian mencari peluang wirausaha dengan berjualan sebagai agen atau pengecer komoditas air minum dalam kemasan. Di perumahan atau di perkampungan makin menjamur saja toko penjual air minum siap saji dalam kemasan ini. Hal ini menandakan bahwa pasar untuk produk ini memang semakin besar pertumbuhan permintaannya.

Fenomena ini tentu menjadi berkah tersendiri bagi PT Tirta Varia Intipratama, salah satu perusahaan distributor kakap air minum kemasan dengan merek Aqua. Sampai saat ini, tren permintaan maupun distribusi ke sejumlah agen maupun outlet masih tinggi. Kendati, tentu tetap ada tantangan yang harus dicarikan jalan keluarnya. Hal ini juga diungkapkan Deputy General Manager PT Tirta Varia Intipratama, Ibrahim Adi Santoso. “Tantangan pasti ada, tapi secara internal, bagi saya seru dan menantang.

Kadang frustrasi juga, banyak pihak yang terlibat. Jadi kadang bingung mau mulai dari mana,” katanya. Kalau operasional sendiri, Ibrahim melanjutkan, pihaknya menangani 13 cabang, yang tersebar di gudang-gudang di sekitar Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek). Untuk menunjang operasional ini,

Perusahaan mempekerjakan sekitar 1000 sumber daya manusia. Sebagai Deputy General Manager sejak 2013 lalu, tugas dan tanggung jawab Ibrahim berfokus pada operasional, penerimaan barang, dan supply chain. Ia dibantu oleh kakak kandungnya sendiri yang mendapat tanggung jawab di bagian pengeluaran barang.


“Ia mengaku, pihaknya tertarik dengan cara menyelesaikan sebuah masalah yang dihadapi. “Six sigma, tapi lebih fokus pada pendekatan lean, sehingga mencari-cari apa sih yang bisa kita lakukan untuk menghasilkan efisiensi dan efektivitas dalam proses kerja. Perubahan Ia dapatkan setelah mengikuti Lean dan Six Sigma. Perusahaan kita tadinya lebih banyak melakukan meeting. “Cara kerja kita tadinya lambat, rencana kerja saja, lalu dikerjakan. Sekarang, kita lebih banyak melakukan pengembangan proyek.”


Bersama kakaknya, Ibrahim memang mendapatkan kepercayaan dari sang ayah untuk meneruskan perusahaan keluarga. Perusahaan yang mulanya hanyalah took yang menyediakan kebutuhan bahan pokok itu, akhirnya masuk ke bisnis distribusi Aqua. “Kami mulai fokus dari sembako ke Aqua. Dari multi produk, sekarang produknya Aqua saja,” katanya. Sekarang, perusahaan ini menjadi salah satu distributor Aqua terbesar di Indonesia, yang menangani distribusi di area Jakarta Utara, Jakarta Barat, dan Serang, Banten. “Kita melayani agen besar, sampai akhirnya tiga tahunan terakhir fokus di retail untuk mengembangkan pasar. Sekarang juga melayani warung-warung. Kalau warung tersebut tidak jual Aqua, kita harus masuk, supaya warung tak beli produk competitor,” ujar Ibrahim.

Meneruskan estafet kepemimpinan sang bapak, Ibrahim tentu tak sekadar menikmati hasilnya. Hingga kini, sang bapak memang masih turut serta sebagai penasehat. “Tapi beliau bukan tipikal yang memberikan wejangan. Orangnya lebih teknis. Waktu bangun usaha ini, dia sendirian. Jadi segala persoalan teknis sudah dia pahami,” katanya. Sebagai generasi kedua dalam perusahaan, ia bersama kakaknya lebih banyak membagi fokus dan konsentrasi pekerjaan. “Sekarang kita pakai angkutan sendiri. Pengelolaannya juga memakai

bendera usaha tersendiri. Karena ada kita yang bisa dipercaya, kami bisa ekspansi,” katanya. Tentu, lulusan Fakultas Media dan Komunikasi dari University of New South Wales, Australia, ini juga merasakan persaingan yang sengit, khususnya dalam bisnis distribusi air minum kemasan ini. Karena itu, ia bertanggung jawab untuk menjaga market share yang sudah dicapai.

“Banyak merek lain yang sudah menguat. Tapi, tantangan kita, beberapa tahun belakang, lebih ke pasar minum beverage, minuman manis,” katanya. Apalagi, lanjut Ibrahim, pasarnya justru lumayan terkonsentrasi dan cenderung padat sekali. Sebagai distributor, apakah ia merasa diuntungkan dengan brand Aqua yang besar? “Tidak juga. Aqua bisa lebih besar seperti sekarang ini karena peran distributor. Apalagi, kita sudah menciptakan pasar, ibaratnya saling mengisi dan membutuhkan,” katanya.

Menurutnya, brand itu memang benar begitu besar. Namun, lanjutnya, perjalanan Aqua hingga bisa menjadi pemimpin pasar juga ditopang oleh distributor yang kuat. “Tanpa distributor yang kuat, aqua belum tentu menjadi market leader. Ujung tombaknya ya distributor,” tuturnya. Untuk mempertegas eksistensinya, ia merasa harus berani melakukan investasi di gudang dan truk. “Karena Aqua ini sifatnya benda besar, tapi value kecil. Satu gallon itu 19-20 kilo, harganya belasan ribu. Bayangkan 1 truk tronton, muatan seribu galon kali belasan ribu, hanya Rp 15 juta. Beda dengan rokok, satu truk aja miliaran rupiah, distribusinya pun harus pakai tentara,” ucapnya. Rencana ke depan, ia bermaksud akan melakukan pengembangan pasar.

Menurutnya, Populasi di Jakarta akan terus bertambah dari tahun ke tahun. Kebutuhan akan air minum akan bertambah. Supply pun diharapkan bisa memenuhi kebutuhan masyarakat Jakarta dan Serang. “Bagi kami, kepuasan pelanggan adalah nomor satu,” katanya. Untuk itu, berbagai keluhan pelanggan menjadi salah satu indikator keberhasilan perusahaan. Ia juga berencana membuat blueprint soal distributor, sehingga kalau sudah ada, ia bisa dengan gampang melakukan ekspansi kelak.

Facebook Comments
Show Buttons
Hide Buttons