Tujuh tahun lalu, tepatnya 17 Agustus 2007, saya bertemu dua sahabat dekat saya semasa di Sekolah Menengah Atas (SMA). Mereka adalah orang yang memiliki latar belakang dan etnis yang berbeda. Satu dari Jawa Barat, satu lagi Sumatera. Kami terlibat satu percakapan menarik tentang ekonomi, tepatnya “uang”.

Teman saya dari Sumatra, sebut saja Rendy sangat tidak suka jika membahas tentang uang. Sementara teman satu lagi, sebut saja, Irawan sangat terbuka. “Tom, bisnis apa sekarang? Kayaknya sukses banget, eksis banget,” Tanya Irawan tertawa lepas sambil menepuk nepuk pundak saya. “Bisnis Coaching, Bos! Saya melatih pengusaha supaya uangnya tambah banyak, waktu luang dengan keluarga lebih banyak dan bisnisnya maju,” jawab saya sambil nyruput secangkir espresso “Wah, kayaknya, gue belum tentu bisa di-coaching sama elo,” Rendy nyeletuk.

Penasaran dengan jawaban Rendy, saya bertanya, “Kenapa?” “Mana bisa gue buka-bukaan soal keuangan gue?” jawabnya spontan. Hmm… jawaban ini sangat menarik. Karena kami sudah berteman sejak 27 tahun lalu, jadi saya sangat-sangat penasaran dengan reaksi Rendy. “Ren, apa lima kalimat yang muncul di pikiran kamu kalau saya sebut kata,’UANG’?” tanya saya. “Hmm… bentar, uang itu tabu. Uang itu segalanya, uang bikin repot kalau nggak tahu nanganinnya. Uang bikin dilema. Uang adalah power, no money no power,” jawabnya sambil setengah becanda.

“Wan, apa empat kalimat yang muncul di pikiran kalau dengar kata uang?” tanya saya ke Irawan biar adil “Uang itu asik, seksi, bikin kita merasa spesial, uang juga mainan yang menyenangkan. Apa lagi yah? Oh, uang adalah waktu,” jawab Irawan.

Dari dua jawaban teman saya, jelas ada dua keyakinan yang sangat berbeda. Tapi yang jelas berbeda adalah perilakunya. Irawan adalah entrepreneur sukses, Rendy adalah karyawan law firm yang cukup setia. Sempat membuka law firm sendiri, tetapi ia tinggalkan dan kembali menjadi karyawan.

 

Bukan Uang yang Membuat Anda Sukses

Benar, bukan uang yang membuat seseorang bisa sukses atau gagal. Belief mereka yang mendukung kesuksesan atau menghentikan mereka. Tantangan terbesar dari belief atau keyakinan ini adalah banyak keyakinan yang saling bertolak belakang satu sama lain.

Misalnya, uang itu kotor, uang tidak bisa membeli kebahagiaan, uang tabu, uang bikin orang sengsara, atau uang bikin orang mabuk kepayang. Sementara di lain sisi orang mengatakan: uang itu power; uang adalah simbol kesuksesan; ada uang abang sayang, nggak ada uang abang melayang. Ini semua kebalikan dan kita semua terkena belief ini baik secara langsung atau tidak.

 

New Paradigma

Paradigma baru yang saya dapat tentang uang ternyata membuat revolusi hidup saya berubah. Uang menurut Maria Nemeth adalah energi. Uang menurut Brad Sugars adalah ide yang  didukung oleh rasa percaya diri. Bill Walsh seorang multi millionaire Amerika mengatakan, uang = value, berapa besar nilai tambah yang kita sajikan untuk orang banyak sebanding dengan uang yang kita akan terima.

Blue print adalah sebuah imprint, materi dan bahan dasar yang membentuk pola hidup kita tentang uang. Pola ini terbentuk sejak 0 tahun hingga 7 tahun dalam kehidupan kita. Di sana 100% keyakinan yang kita terima dari orang tua, lingkungan, guru sekolah, guru spiritual akan tercetak tanpa disaring oleh logika. Misalnya, jika saat kecil Anda suka dandan, ketika dewasa pasti ingin jadi artis, model, atau penata busana. Jika saat kecil Anda suka utak-atik mesin, mobil, sudah besar bisa jadi suka jadi pegawai bengkel, atau pemilik showroom.

 

Pola masa kecil yang berhubungan dengan uang bisa jadi seperti ini

Jika Anda sering melihat kedua orang tua berkelahi karena uang, bisa jadi persepsi Anda  tentang uang negative dan bisa membuat Anda tidak suka secara tidak sadar. Akhirnya, saat ada uang, Anda akan merasa tidak nyaman untuk menyimpan dan lebih suka membelanjakan.

Mengapa? Karena merasa uang lebih layak dibelanjakan daripada disimpan. Jika saat kecil anda selalu dilarang memiliki barang yang Anda suka, bisa jadi saat sudah besar Anda tidak akan pernah ragu untuk menghabiskan uang Anda, berapa pun nilainya, untuk kesenangan. Pikiran bawah sadar Anda mengatakan, “mumpung ada uang, kapan lagi kita bisa beli barang-barang ini”.

 

Negative blue print

Hati-hati jika Anda memiliki emosi negatif saat memikirkan uang. Mengapa, Coach? Karena bisa jadi ada pola bawah sadar yang tidak Anda sadari. Apa contoh emosi negatif saat memikirkan uang? Merasa tidak berdaya Sedih tanpa alasan Marah Sirik Tidak suka melihat kesuksesan orang lain Merasa bersalah ketika mendapat kemenangan Kecanduan (semua jenis kecanduan adalah efek emosi negatif) Kompulsif Eating disorder Jika emosi negatif ini tidak diatasi, maka pola cara Anda mengelola uang tidak akan berubah.

Uang tidak membuat orang kaya, hanya memperbesar apa pun yang mereka sudah miliki. Orang yang dasarnya pelit, semakin banyak uang, semakin pelit. Orang yang pengecut, semakin banyak uang semakin penakut. Orang yang murah hati, semakin banyak uang semakin murah hati.

Temukan pola yang tidak mendukung Anda terutama dalam mengelola uang, misalnya: boros, pelit, kikir, takut kehilangan uang, culas, tidak bisa mengelola uang dan sebagainya. Jangan menghakimi diri Anda, tapi mulailah mengenali belief, keyakinan atau nilai-nilai yang menghambat. Ganti dengan nilai dan keyakinan yang lebih mendukung dan mulai ubah gaya hidup Anda.

 

Salam Pencerahan!

TOM MC IFLE
* Indonesia’s #1 Success Coach
* Lean Six Sigma Coach
* Certified Matriz Level 1 Facilitator
* CEO Top Coach Indonesia

 

Related Articles :

Facebook Comments
Show Buttons
Hide Buttons